Dokumen Penting Membawaku Ke Negeri Di Atas Awan

Catatan: Matt Rey Kartorejo
CUACA di Kotabunan Bolaang Mongondow Timur, cukup bersahabat. Sore itu Sabtu 5 Oktober 2024, aku berniat pergi ke Desa Bukaka. Sekira pukul 16.00 Wita, akhirnya aku berangkat ke desa yang terletak di pegunungan itu dengan menggunakan Motor Matic jenis Yamaha Fino 125.
Ketika melewati perkebunan Bakan, tampak beberapa orang di pinggir jalan menunggu petani cengkih. Mereka sepertinya pembeli kuncup bunga kering beraroma dari keluarga pohon Myrtaceae itu.
Aku menyapa mereka dan berhenti sejenak, menyulut sebatang rokok, lalu melanjutkan perjalanan.
Beberapa menit kemudian, desa Bukaka sudah di depan mata. Hawa dingin mulai terasa. Udara segar khas pegunungan menyeruak di antara celah-celah dedaunan. Terlihat para petani mulai pulang ke rumah membawa hasil pertanian.

Di desa ini, kabut dan awan-awan putih kerap menyelimuti dan bergelayut rendah di atas atap rumah-rumah. Kehidupan di desa ini tampak begitu sederhana, namun memancarkan kedamaian yang sulit ditemukan.
Saat memasuki wilayah Dusun 1 Desa Bukaka, ada pemandangan yang cukup indah. Penasaran dengan panorama yang nampak, aku berhenti dan mengambil beberapa gambar.
Pemandangan alam di desa pegunungan ini bukan sekadar keindahan visual, tapi juga pelajaran tentang betapa pentingnya, harmoni, dan rasa syukur. Aku menarik nafas dalam-dalam, membiarkan seluruh keindahan ini meresap ke dalam jiwaku.
Negeri Di Atas Awan
Matahari mulai tenggelam ketika aku tiba di desa Bukaka. Desa kecil yang tersembunyi di kaki Gunung Lotung ini,
bak permata tersembunyi.
Awan-awan bergerak pelan, seperti menari di antara lembah-lembah dan lereng-lereng pegunungan.

Seorang pria tua tiba-tiba muncul di hadapanku. “pemandangannya sangat bagus.” tuturnya.
Aku mengangguk, masih terpesona oleh pemandangan di depan mataku. “Apakah setiap hari di sini selalu seperti ini?” tanyaku.
“Selalu,” jawabnya singkat.
Pria tua itu memandang ke arah desa, matanya penuh kebanggaan.
“Orang-orang menyebut tempat ini Negeri Di Atas Awan,” kata pria itu.

Usai mengambil setumpuk dokumentasi, aku akhirnya kembali mengemudi motorku, berjalan menuju rumah Sekretaris Desa Bukaka. Terlihat Anak-anak berlarian di jalan sempit, mereka tertawa riang. Wajah-wajah mereka cerah, tidak ada gemerlap, tidak ada suara bising, hanya tawa tulus dan ketenangan.

Pertemuan Dengan Sekdes Bukaka
Jalanan sempit yang berliku membawaku ke sebuah desa yang terletak di pegunungan. Udara sejuk menyambut, angin berhembus tipis dari arah lembah. Aku datang di desa itu dengan tujuan mengantar dokumen penting kepada sekretaris desa.
Ketika memasuki halaman rumah Sekdes Bukaka, terlihat seorang kakek dengan wajah penuh ketenangan. Rambutnya sudah beruban, tapi matanya menyimpan ketegasan dan kebijaksanaan. Dia adalah kakek Sekdes Bukaka.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam,” sahut si kakek.
Tiba-tiba cucu kakek keluar dari dapur.
Percakapan kami hanya singkat. Aku hanya menanyakan keberadaan Sekdes.
“Pak Sekdes Ada?” Oh sekdes tidak ada, lagi pergi ke Tababo,” jawab cucu kakek.
Aku mengambil berkas di bagasi motor dan menitipkannya kepada cucu kakek. Usai memberikan berkas yang tersusun rapih di dalam Map, aku keluar dari kediaman Sekdes dengan hati yang lega. Naik ke atas motor dan kembali ke rumah.
Desa yang terletak di wilayah Kecamatan Kotabunan ini mungkin dilindungi oleh jarak, namun tidak oleh harapan. Di bawah kepemimpinan Sangadi Masri Hala, saya yakin desa ini akan berkembang dengan cara mereka sendiri, mandiri, berdaya, dan penuh kebersamaan. (*)



