original ai checker
FEATURE

Firji ke Jakarta, Tapi Nama Bupati dan Wabup Ada di Doa Ibunya

Satu Nama dari Lorong Amu yang Menggetarkan Bangsa

Catatan: Matt Rey Kartorejo

KAMIS, 14 Agustus 2025. Cuaca menyala di langit Kotabunan, Bolaang Mongondow Timur. Matahari menggantung tajam, menyiram bumi dengan cahaya panas yang tak mengenal iba. Di sela terik yang membakar tanah, aku melangkah ke Lorong Amu, sebuah lorong sunyi yang menyimpan cerita, bukan dari buku, tapi dari air mata dan harapan seorang ibu bernama Saura Budin.

Ia menyambutku dengan senyum yang menyembunyikan letih, lalu membawaku ke dalam rumahnya yang sederhana namun bersih. Di balik dinding itu, aku mendengar sebuah kisah yang tak hanya tentang keberhasilan, tapi juga tentang pengorbanan, kejujuran, dan keyakinan yang tak tergoyahkan.

Anaknya, Firji Beeg, adalah satu dari sekian ribu anak negeri. Namun takdir telah memilihnya menapaki jalan yang tak semua bisa lalui, menjadi Paskibraka di tingkat nasional.

“Waktu itu dia datang, saya sedang duduk,” kenang Ibu Saura sambil menunduk, seolah ingin menarik waktu kembali ke hari itu. “Dia bilang, ‘Ma, saya terpilih jadi Paskibraka. Saya akan ikut seleksi di Manado.’ Terus dia menangis…”

Suara Ibu Saura bergetar. Matanya basah.

“Dia bilang: ‘Insyaallah Ma, saya lulus sampai Jakarta.’ Saya cuma bisa bilang: ‘Amin, Nak. Kalau itu rezekimu, jalanmu akan dibukakan.”

Air matanya tak berhenti saat menceritakan momen itu, tangisan yang bukan dari kesedihan, tapi dari tekad dan doa seorang anak yang menggantungkan cita-cita di langit.

Saura Budin, ibunda Firji Beeg./Foto Momais

Seleksi di Manado ia lalui, lalu kembali dan bekerja di tambang. Ya, tambang. Firji, remaja belia itu, menjaga rendaman demi upah seratus lima puluh ribu rupiah semalam. Seratus ribu ia serahkan kepada ibunya, dan sisanya ia simpan. Untuk jajan, katanya, cukup dua puluh ribu. Yang lain ditabung untuk keperluan sekolah.

“Kalau tak ada yang menyuruh jaga, dia jual kue, antar sendiri pesanan ke rumah-rumah. Naik motor tuanya, kadang jalan kaki. Yang penting halal,” tutur Ibu Saura.

Tangannya mengepal pelan di pangkuan. Bangga bercampur getir. Firji bukan anak biasa. Ia bukan hanya rajin, tapi tahu bagaimana hidup dengan harga diri. Sejak ayahnya wafat, ia tak pernah malu bekerja. Bahkan ketika teman-temannya bermain atau tidur, Firji berjaga. Di tambang. Di bawah langit yang kadang gerimis, kadang bintang.

“Saya orang miskin,” kata Ibu Saura lirih, seolah takut kalimat itu terdengar terlalu keras. “Tapi Tuhan angkat anak saya sampai Jakarta. Saya cuma bisa sujud syukur.”

Ketika nama Firji diumumkan lolos ke tingkat nasional, tangis meledak. Bukan hanya dari ibunya, tapi dari para tetangga yang mengenalnya sebagai anak baik, tekun, dan selalu menyapa dengan sopan.

Ibu Susan, tetangga sebelah, mengusap matanya saat bicara tentang Firji.

“Dia anak baik. Tidak pilih-pilih kerja. Siapa saja suruh dia antar kue, dia pergi. Disuruh jaga rendaman, dia jaga. Anak itu tahu diri. Kasihan, tapi dia kuat.”

Rumah Firji Beeg di Lorong Amu, Desa Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur./Foto: Momais

Ibu Jumriya Muhammad menimpali, “Rajin salat juga. Insyaallah cita-citanya tercapai. Anak itu bisa jadi contoh buat yang lain. Sopan, kerja keras, dan tidak gengsi.”

Keberangkatan Firji ke Jakarta tak lepas dari dukungan pemerintah daerah. Bupati Oskar Manoppo dan Wakil Bupati Argo V. Sumaiku, disebut Ibu Saura dengan penuh rasa terima kasih yang tak bisa ia bendung.

“Saya tidak bisa balas kebaikan bupati dan wakil. Hanya bisa bilang terima kasih. Semoga Tuhan yang membalas.”

Di sudut desa yang sepi, di balik lorong sempit bernama Amu, tumbuh cahaya kecil dari seorang anak penjaga tambang dan penjual kue. Namanya kini dikenang bukan karena kemewahan, tapi karena semangatnya yang tak bisa dibeli. Ia membawa harapan banyak anak daerah, bahwa mimpi tak mengenal batas ekonomi, dan ketekunan adalah mata uang paling berharga dalam hidup ini.

Dan di lorong itu, seorang ibu menatap langit siang dengan mata berkaca. “Firji… Nak, kamu sudah sampai di tempat yang dulu hanya kita bicarakan dalam doa.” (*)

BERITA TERKAIT

Back to top button