FEATURE

Gatot Sugiarto: Keringat Penambang Adalah Kehormatan

Ketua DPP APRI, Gatot Sugiharto./Foto: Istimewa

Catatan: Matt Rey Kartorejo/Rabu 17 September 2025

DI BAWAH terik matahari yang memantulkan sinarnya ke tanah berdebu, setiap tetes keringat yang jatuh dari wajah para penambang adalah puisi yang tak tertulis. Bukan sekadar air asin yang mengalir, melainkan tanda hidup, saksi bisu dari perjuangan yang tak kenal lelah. Dalam derasnya keringat itu, tersimpan cerita tentang harapan, tentang anak-anak yang menunggu kepulangan ayahnya, tentang meja makan sederhana yang ingin tetap terisi.

“Setiap tetes keringat kita di lahan tambang adalah bukti semangat juang yang tak kenal lelah,” ujar Gatot Sugiarto, Ketua Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (DPP APRI). Kalimat itu lahir bukan hanya dari pikirannya, tetapi dari denyut nadinya sendiri, dari hati yang turut merasakan getir sekaligus kebanggaan para penambang rakyat.

Gatot berbicara dengan nada penuh keyakinan, seakan hendak menyalakan kembali bara api di dada para pekerja tambang. Ia menegaskan, jangan pernah ada keraguan dalam langkah. Sebab pekerjaan ini bukan hanya sebatas mencari nafkah, melainkan sebuah jalan panjang untuk menjaga kehormatan.

“Mari teruskan langkah menuju tambang yang bertanggung jawab,” katanya, seolah menggenggam tangan setiap penambang agar tak pernah menyerah pada kerasnya medan.

Tambang bukan hanya tanah yang digali, melainkan ladang harapan yang harus dijaga. Ada aturan yang menjadi pagar, ada amanah yang harus dipelihara. Gatot mengingatkan, berpegang pada aturan bukanlah beban, melainkan tonggak agar pijakan tidak goyah. Karena dengan bekerja aman, menjaga lingkungan, dan menata cara menggali, kita sedang menulis masa depan. Masa depan di mana penambang rakyat bukan lagi dipandang sebelah mata, melainkan berdiri tegak sebagai insan profesional yang dihormati.

“Dengan berpegang pada aturan, bekerja dengan aman, dan menjaga lingkungan, kita sedang membangun masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Masa depan itu bukan hanya milik penambang, melainkan milik bangsa. Sebab dari tangan para pekerja tambang rakyat, mengalir denyut ekonomi yang menghidupi ribuan keluarga. Dari lubang-lubang kecil yang mereka gali dengan penuh kesabaran, lahir keberanian untuk menantang hidup.

Di setiap ayunan cangkul, di setiap dentuman palu yang membentur batu, sesungguhnya ada doa yang melambung. Doa agar tanah tetap subur, agar alam tetap bersahabat, agar rezeki yang diambil tidak menjadi kutukan, melainkan berkah. Gatot tahu, para penambang bukan hanya buruh kasar, mereka adalah pahlawan ekonomi rakyat. Mereka adalah wajah-wajah yang kadang tak dikenali, namun berdiri paling depan menjaga denyut kehidupan di pelosok negeri.

“Semangat terus, para pahlawan ekonomi rakyat!” seru Gatot, dengan suara yang bergetar, seolah ikut menanggung beban yang dipikul ribuan bahu. Kalimat itu bagai genderang perang, memanggil setiap hati untuk tidak menyerah.

Dan begitulah, perjuangan para penambang bukan sekadar kisah tentang tanah yang diolah, melainkan kisah tentang manusia yang mencari arti hidup. Dalam keringat, dalam luka, dalam tanah yang digali, ada martabat yang dijaga. Ada bangsa yang menanti. Ada masa depan yang tengah mereka gali, setetes demi setetes, hingga suatu hari kelak, sejarah akan menyebut mereka: pahlawan yang lahir dari rahim bumi. (*)

 

BERITA TERKAIT

Back to top button