FEATURE

Kalau CW Dipukul Hari Ini, Siapa Besok?

Siapa yang Akan Bicara Jika Semua Diam?

Catatan: Matt Rey Kartorejo

DI SEBUAH sudut tanah Bolaang Mongondow Timur, di mana matahari terbit dengan wajah hangat dan burung-burung masih setia berkicau di antara ilalang, kabar tentang kekerasan mengguncang harmoni. Seorang karyawan, lelaki biasa yang setiap hari mengenakan seragam dan mengandalkan ketegasan untuk menjaga ketertiban, tiba-tiba menjadi berita, bukan karena jasanya, tetapi karena luka yang diduga ditorehkan oleh tangan atasannya sendiri beberapa waktu lalu.

CW, demikian inisial yang dikenal publik, warga Desa Paret di Kecamatan Kotabunan, bukan siapa-siapa, kecuali seorang penjaga yang menggantungkan harapan pada pekerjaan yang dibawakan PT Nawakara Perkasa Nusantara, perusahaan outsourcing keamanan yang bermitra dengan PT Arafura Surya Alam (ASA). Ia adalah satu dari banyak wajah yang bekerja di balik layar industri, menjaga ketenangan namun jarang mendapat tepukan.

Namun pada suatu hari, ketenangan itu pecah. Suptend Security berinisial MT, yang dikontrak langsung oleh PT ASA, diduga melayangkan tindakan kekerasan terhadap CW. Bukan bentakan, bukan teguran, tapi pemukulan, sebuah tindakan yang mengguncang batas-batas hierarki dan kemanusiaan.

Kabar itu menyebar seperti api menyusur alang-alang kering. Tidak hanya merobek dinding sunyi ruang kerja, tapi juga menggema di telinga masyarakat. Asmawan Lasambu, seorang tokoh pemuda, tidak tinggal diam. Suaranya mengalun lantang, seperti genderang keadilan yang ditabuh di tengah senyap.

“Tindakan seperti ini tidak bisa dibenarkan dalam bentuk apa pun,” katanya, Selasa itu. “Apalagi dilakukan oleh seorang atasan kepada bawahannya. Ini bukan sekadar pelanggaran kedisiplinan, ini adalah pengkhianatan terhadap martabat pekerja.”

Lasambu tak hanya menggugat kekerasan, ia juga mempertanyakan keputusan-keputusan struktural yang tak berpihak. “Kenapa Suptend-nya bukan dari Boltim? Di sini banyak pensiunan yang layak dan siap. Bukankah seharusnya perusahaan juga mendukung denyut ekonomi lokal?”

Sementara suara publik menggelegar, pihak manajemen PT ASA hanya mengirimkan kalimat singkat, seperti bisikan di tengah badai. “Masih dalam proses investigasi pak” ujar Regi Pontoh, manajer perusahaan, melalui pesan yang tak menyentuh rasa.

Dan PT Nawakara? Mereka belum bersuara. Seolah diam adalah satu-satunya pelindung di tengah riuh.

Namun di balik semua itu, ketakutan mulai tumbuh di dada para pekerja. Mereka yang memakai seragam bukan hanya membawa tanggung jawab, tapi juga kekhawatiran: bahwa suatu hari, tangan kekuasaan bisa saja melayang tanpa alasan.

Kisah CW bukan sekadar insiden. Ia adalah simbol dari retaknya dinding etika dalam dunia kerja, dan ujian bagi perusahaan: apakah akan berdiri di sisi keadilan, atau memilih bersembunyi di balik birokrasi yang dingin.

Di tanah Boltim yang hangat, luka ini masih menganga. Dan rakyat menunggu, bukan sekadar kabar, tapi keadilan. (*)

 

BERITA TERKAIT

Back to top button

badak88

dazbet

rajajp88

hokigacor

slot88

slot777

slot gacor

idnslot