
Rahman Salehe./Foto: Istimewa
Catatan: Matt Rey Kartorejo
DI BAWAH langit Bolaang Mongondow Timur yang teduh oleh gema takbir Idul Adha 1447 Hijriah, langkah-langkah kecil masyarakat desa seakan berjalan lebih ringan dari biasanya. Angin pagi membawa aroma tanah yang basah, menyusup di antara rumah-rumah sederhana, lalu singgah di wajah-wajah yang dipenuhi harap. Hari raya itu bukan hanya datang sebagai penanda ibadah dan pengorbanan, tetapi juga sebagai kabar tentang kepedulian yang kembali mengetuk pintu-pintu kehidupan.
Di tengah suasana penuh syukur itu, keluarga Rahman Salehe dan Salsabilah Mamonto kembali menanam benih kebaikan bagi masyarakat Boltim. Sebanyak 93 ekor sapi kurban disalurkan ke berbagai desa, menjangkau mereka yang selama ini menunggu datangnya kebahagiaan dengan cara yang sederhana: lewat perhatian dan uluran tangan sesama.
Bagi sebagian orang, hewan kurban mungkin hanya terlihat sebagai bantuan tahunan yang datang di hari raya. Namun bagi masyarakat yang menerimanya, ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar daging yang dibagikan. Ada rasa dihargai, ada kehangatan yang sulit diucapkan, dan ada keyakinan bahwa di tengah kerasnya kehidupan, masih ada hati yang memilih untuk peduli.
Di beberapa desa, anak-anak tampak berlarian dengan mata berbinar. Para orang tua menyambut kedatangan bantuan itu dengan senyum yang tenang, seolah beban hidup mereka untuk sesaat ikut diringankan. Takbir berkumandang dari masjid-masjid kecil, berpadu dengan suara percakapan warga yang dipenuhi rasa syukur. Idul Adha tahun itu terasa lebih hidup, bukan karena kemewahan, melainkan karena kebersamaan yang tumbuh dari ketulusan.
Rahman Salehe memahami bahwa makna kurban tidak berhenti pada penyembelihan hewan semata. Baginya, Idul Adha adalah jalan untuk merawat kemanusiaan dan menjaga rasa peduli di antara sesama manusia.
“Idul Adha mengajarkan kita tentang keikhlasan dan pengorbanan. Kebahagiaan terbesar bukan saat kita memiliki segalanya, tetapi ketika kita bisa melihat orang lain tersenyum karena kepedulian kita,” tuturnya pada Selasa, 26 Mei 2026.
Kalimat itu meluncur sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam. Sebab di dunia yang semakin sibuk mengejar kepentingan pribadi, masih ada orang-orang yang percaya bahwa rezeki bukan semata untuk dinikmati sendiri. Rahman Salehe meyakini bahwa di setiap nikmat yang diberikan Allah Swt, tersimpan hak orang lain yang harus dijaga dan disampaikan dengan ikhlas.
Istri tercinta Rahman Salehe, Salsabilah Mamonto, memandang kebersamaan sebagai cahaya yang harus terus dipelihara dalam kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, semangat gotong royong dan saling membantu tidak boleh hilang, terlebih di momen suci seperti Idul Adha.
“Kami berharap semangat berbagi dan kepedulian seperti ini jangan pernah hilang. Karena kebahagiaan akan terasa lebih berarti ketika bisa dirasakan bersama,” ungkapnya lembut.
Apa yang dilakukan keluarga ini menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak selalu lahir dari pidato panjang atau janji-janji besar. Kadang, ia hadir lewat langkah sederhana: membantu sesama, mengetuk pintu rumah warga, dan menghadirkan senyum di wajah mereka yang membutuhkan.
Di ujung hari, ketika matahari mulai turun perlahan di balik perbukitan Boltim, rasa syukur masih menggantung di udara. Warga yang menerima bantuan mengangkat doa-doa terbaik bagi keluarga Rahman Salehe dan Salsabilah Mamonto. Mereka berharap kesehatan, keberkahan, dan kemuliaan senantiasa menyertai keluarga tersebut.
Sebab bagi masyarakat, ketulusan seperti itu bukan hanya bantuan sesaat. Ia adalah cahaya kecil yang membuat banyak orang percaya bahwa kemanusiaan masih hidup dan akan selalu menemukan jalannya untuk berbagi. (*)



