Penantian Terbayar di Tanah Suci, Jema’ah Umroh Kotabunan Bulawan Tiba di Makkah

Jema’ah Umroh Asal Boltim./Foto: Istimewa
Oleh: Matt Rey Kartoredjo
ADA doa yang dipanjatkan diam-diam, ada penantian yang dilalui dengan sabar, dan ada perjalanan yang akhirnya menemukan ujungnya di Tanah Suci.
Sebanyak 13 jemaah umrah asal Desa Kotabunan Bulawan, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utara, akhirnya menapakkan langkah menuju Tanah Suci melalui PT Aara.
Perjalanan itu dimulai dari Bandara Sam Ratulangi Manado. Dari sana, para jemaah terlebih dahulu menuju Surabaya, sebelum melanjutkan perjalanan panjang menuju Makkah Al Mukarramah.
Bagi sebagian jemaah, perjalanan ini bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah perjalanan hati menuju tempat yang selama ini mungkin hanya hadir dalam doa, bayangan, dan kerinduan.
Sebelumnya, keberangkatan sejumlah jemaah sempat tertunda akibat kendala teknis dari pihak travel. Penantian pun menjadi bagian dari perjalanan mereka.
Namun, doa dan ikhtiar terus berjalan. Koordinasi dilakukan agar seluruh jemaah dapat kembali melanjutkan perjalanan ibadah yang telah lama dinantikan. Hingga akhirnya, Kamis, 17 September 2026, menjadi hari yang dicatat dalam ingatan.
Para jemaah diberangkatkan menuju Tanah Suci.
Di Bandara Sam Ratulangi Manado, suasana haru mengiringi langkah mereka. Keluarga berdiri melepas kepergian orang-orang terkasih, mengiringi setiap langkah dengan lambaian tangan dan doa yang tak putus-putus.
Ada mata yang berkaca-kaca. Ada pelukan yang seolah enggan dilepaskan. Sebab dalam setiap keberangkatan menuju Tanah Suci, selalu ada harapan agar mereka kembali dengan selamat, membawa cerita tentang sebuah perjalanan yang bukan hanya jauh secara jarak, tetapi juga dalam makna.
“Mudah-mudahan Allah melancarkan ibadah umrah ini dan seluruh jemaah diberikan kesehatan dan kekuatan. Amin,” ujar Risma Dama.
Dan akhirnya, penantian itu terbayar. Dari Manado, Menuju Makkah Al Mukarramah
Setelah menempuh perjalanan, kabar bahagia akhirnya datang dari Tanah Suci. Makkah Al Mukarramah menyambut kedatangan para tamu Allah dari Timur Totabuan.
Kabar itu disampaikan Hj Sunarti Muhammad melalui akun Facebook miliknya. Dengan penuh rasa syukur, ia menuliskan ungkapan yang menggambarkan betapa perjalanan tersebut akhirnya sampai pada titik yang selama ini dinantikan.
“Segala puji hanya milik-Mu ya Rabb atas segala nikmat dari awal hingga akhir. Hanya izin dan kuasa-Mu-lah, akhirnya jamaah umrah PT AARA sudah sampai ke Mekkah Al Mukarommah.”
Lalu sebuah seruan penuh takzim:
“Allahuakbar, Allah Maha Besar.”
Di balik kalimat itu, terselip rasa syukur yang barangkali sulit diterjemahkan sepenuhnya dengan kata-kata.
Sebab ada perjalanan yang harus ditunggu. Ada kesabaran yang harus dijaga. Dan ada sebuah doa yang akhirnya menemukan jawabannya di hadapan Ka’bah.
Hj Sunarti Muhammad kemudian menitipkan doa bagi para jemaah yang telah berada di Tanah Suci.
“Semoga kalian sehat selalu di sana ya. Mohon do’a agar kami bisa kembali ziarah di tempat yang suci ini, Mekkah dan Madinah. Aamiin ya robbal’alamiin.”
Tak berselang lama, unggahan tersebut dipenuhi komentar penuh doa dan ucapan selamat.
Dari tanah kelahiran mereka di Bolaang Mongondow Timur, doa-doa seperti dikirimkan menyusuri jarak, menuju Makkah dan Madinah.
Rukmaya Bisnun, seorang ibu asal Desa Bulawan, turut menyampaikan harapannya agar seluruh jemaah diberikan kesehatan hingga kembali ke tanah air.
“Alhamdulillah, umroh sudah dilaksanakan. Insya Allah semua jamaah umroh diberikan kesehatan, umur yang panjang sampai pulang ke tanah air,” ucap Rukmaya.
Doa serupa datang dari Mayang Djunaidi.
“Masya Allah. Sehat-sehat semua selama beribadah. Doakan kami semoga cepat terundang.”
Sementara Kamlah Ambarak menuliskan ungkapan singkat, namun sarat rasa syukur:
“Alhamdulillah wasyukurilah.”
Begitulah perjalanan 13 jemaah asal Kotabunan Bulawan.
Berangkat dengan doa, sempat tertahan oleh penantian, lalu kembali melangkah hingga akhirnya tiba di Tanah Suci.
Di antara hiruk-pikuk perjalanan dunia, mereka kini berada di tempat yang selama ini dipanggil dalam doa.
Semoga setiap langkah menjadi ibadah, setiap doa menemukan jalan menuju langit, dan setiap kerinduan kepada Allah berbuah ketenangan.
Sebab pada akhirnya, perjalanan menuju Tanah Suci bukan hanya tentang seberapa jauh kaki melangkah, tetapi tentang sejauh mana hati mampu mendekat kepada Sang Pemilik perjalanan. (*)



