Bolmong RayaFEATURERELIGI

Rahman Salehe dan Ziarah Keikhlasan untuk Para Penjaga Masjid

Rahman Salehe bersama Istri tercinta./Foto: Istimewa

Oleh: Matt Rey Kartorejo

Di ANTRA denyut kehidupan yang sederhana dan langkah-langkah sunyi para penjaga rumah ibadah, tumbuh sebuah kepedulian yang tak banyak bersuara, namun terasa hangat menjalar hingga ke relung jiwa. Kepedulian itu kembali menemukan wujudnya dalam diri Rahman Salehe, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, yang memilih menabur penghargaan bukan dengan kata-kata semata, melainkan dengan perjalanan suci yang sarat makna.

Jika sebelumnya tiga imam masjid telah lebih dahulu menapaki jejak menuju Tanah Suci, kini giliran puluhan lainnya bersiap menyusul. Di Kecamatan Kotabunan, harap dan doa berkelindan dalam kesibukan yang tak biasa. Sebanyak 44 imam masjid bersama para pegawai syari tengah menanti panggilan itu, panggilan yang bukan sekadar perjalanan, melainkan ziarah batin menuju pusat kerinduan umat.

Rahman memandang mereka bukan hanya sebagai pemimpin salat, tetapi sebagai pelita yang tak pernah padam di tengah masyarakat. Di pundak para imam itulah terletak tanggung jawab menjaga kesucian ibadah, memastikan setiap gerak dan bacaan makmum tetap berada dalam kebenaran, sekaligus merawat denyut kehidupan masjid agar tetap hidup, hangat, dan penuh makna.

“Insyaallah,” ucapnya suatu ketika, seusai melaksanakan reses di Desa Bulawan Dua, dengan nada yang tenang namun mengandung keyakinan, “perjalanan ini sedang dipersiapkan. Administrasi tengah diurus, dan jika tak ada aral, bulan Juni atau Juli 2026 akan menjadi waktu keberangkatan.”

Namun lebih dari sekadar rencana, niat itu berakar pada sesuatu yang lebih dalam sebuah rasa syukur yang tak ingin berhenti pada diri sendiri. Dalam diamnya, Rahman menata niat sebagai persembahan kepada Yang Maha Kuasa, sebuah ikhtiar kecil untuk memuliakan mereka yang selama ini mengabdikan hidupnya bagi umat.

Baginya, para imam adalah penuntun arah, cermin kehidupan, dan penjaga nilai-nilai yang sering kali luput dari hiruk-pikuk dunia. Mereka hadir bukan untuk dipuji, melainkan untuk melayani, mengajarkan, dan menuntun tanpa lelah.

Dan dari sanalah, perjalanan ini menemukan maknanya. Bukan sekadar keberangkatan menuju Makkah, tetapi juga perjalanan hati dari rasa syukur menuju keikhlasan, dari penghormatan menuju keberkahan.

“Semuanya,” tuturnya lirih, “semata untuk mencari rida Allah SWT.”

Di balik kata-kata itu, tersimpan harapan sederhana: agar setiap langkah yang diambil, setiap doa yang dipanjatkan, dan setiap niat yang ditanam, berbuah kebaikan yang terus mengalir, bahkan ketika waktu telah berlalu jauh. (*)

BERITA TERKAIT

Back to top button

badak88

dazbet

rajajp88

hokigacor

slot88

slot777

slot gacor

idnslot