
Imran Kodu dan Hindun Ambarak./Foto Istimewa
Catatan: Matt Rey Kartorejo
Minggu, 15 Juni 2025. Langit di ufuk timur Totabuan menyambut pagi dengan rona cerah, seolah turut bersyukur atas takdir yang akan ditulis hari itu. Angin berembus lembut dari pesisir, membisikkan kabar tentang dua hati yang akan dipersatukan dalam satu janji suci.
Hari itu adalah hari istimewa bagi Imran Kodu dan Hindun Ambarak. Setelah matahari tenggelam dan malam menebar sunyi, usai gema salat Isya mereda, keduanya akan mengikrarkan akad nikah, perjanjian agung di hadapan saksi bumi dan langit.
Selepas salat Isya, rumah keluarga Imran Kodu di Desa Bulawan Dua, mulai ramai oleh tamu-tamu yang datang membawa restu. Wajah-wajah berseri tampak bersahabat dalam cahaya lampu rumah yang hangat. Hidangan sederhana tapi penuh rasa keikhlasan disuguhkan untuk tamu-tamu yang tak hanya hadir dengan langkah, tapi juga dengan doa.
Malam itu, dengan deru kendaraan yang tidak tergesa, rombongan berangkat menuju Desa Tombolikat, Kecamatan Tutuyan. Mobil dan sepeda motor mengantar rombongan dalam sunyi malam yang khidmat, seperti iring-iringan harapan yang mengalun tenang di jalan waktu.

Tak lama, mereka tiba di rumah keluarga Hindun Ambarak. Sambutan hangat dan penuh kekeluargaan menyambut kedatangan mempelai pria. Di bawah atap rumah yang sederhana namun sarat makna, prosesi ijab kabul pun dimulai.
Tamu-tamu terhormat hadir: tokoh adat, kepala desa, tokoh agama, sejumlah Kepala KUA, serta keluarga dan kerabat dari kedua belah pihak. Saat kata-kata ijab kabul dilafalkan, suasana mendadak hening, seolah bumi pun enggan bernafas agar tidak mengganggu sakralnya momen tersebut.
Tak lama berselang, suara “sah” menggema. Imran Kodu dan Hindun Ambarak kini resmi sebagai suami istri. Senyum mengembang di wajah keduanya, seperti cahaya yang baru saja dinyalakan dari dalam hati. Sebuah babak baru telah dibuka, babak cinta yang diberkahi oleh langit dan bumi.
Imran pun mengabadikan momen ini di media sosial. Foto-foto pernikahan yang sederhana namun penuh kebahagiaan itu segera berserakan di linimasa, dibanjiri doa dan harapan baik dari sahabat, keluarga, bahkan dari belahan bumi yang jauh.

Dari tanah suci, Ketua DPRD Bolaang Mongondow Timur, Samsudin Dama bersama istrinya, Rohani Mamonto, turut mengirimkan ucapan selamat. Meski sedang menunaikan ibadah haji, mereka tak lupa menebar doa dari tempat paling mulia di muka bumi, dari Jabal Rahmah, “Bukit Kasih Sayang”, tempat bertemunya Adam dan Hawa setelah berabad perpisahan.
“Insya Allah Sakinah, Mawaddah, Warahmah,” ucap Samsudin. Doa yang lahir dari tanah penuh berkah itu melintasi samudra dan benua, tiba di Totabuan, menyejukkan hati kedua mempelai.
Jabal Rahmah, bukit yang berdiri kokoh di Padang Arafah, bukan sekadar tempat bersejarah. Di sanalah cinta pertama manusia bertaut kembali, dan di sanalah pula doa tentang cinta yang abadi terus menggema dari generasi ke generasi. Semoga cinta Imran dan Hindun menjadi salah satunya.
Tak hanya dari tanah suci, dunia maya pun ramai oleh ucapan dan restu. Warganet menyambut kabar bahagia itu dengan tulus, menyulam kata-kata menjadi benang doa yang menjulur ke langit.
“Alhamdulillah, banyak selamat kak, semoga samawa sampai kakek nenek,” tulis Andri Bonte, seorang guru.
“Semoga langgeng terus sampai oma opa, aamiin yra,” sambung Masni Mawite, menyematkan doa panjang usia dan kebahagiaan.
Ifan Paputungan menulis singkat tapi dalam, “Bahagia selamanya.”
Sementara Nuraini Mamonto menyisipkan harapan tulus, “Alhamdulillah selamat neh, semoga langgeng sampai kakek nenek.”
Cat Noyo pun ikut bersuara, “Banyak selamat ppa Enda. Bahagia dunia akhirat.”
“Selamat menempuh rumah tangga baru, pp Enda dan umi Hindun. Semoga bahagia selalu, sehidup sesurga,” tulis Irawaty Zahra Ilman, menyematkan harapan seindah surga.
Chandra Setiawan Modeong, salah satu Kepala Desa di Kecamatan Kotabunan, mengutip doa indah, “Baarakallah hulakuma wabaraka alaikuma fii khair.”
Kalsum Beeg menambahkan, “Banyak slamat PP Enda dan umi. Samawa dunia akhirat.”

Dari setiap kalimat, dari setiap komentar, mengalir cinta dan harapan, tak hanya untuk hari ini, tapi untuk hari-hari panjang di depan. Semoga cinta Imran dan Hindun menjadi kapal yang kuat melintasi samudra rumah tangga, dilayari oleh keikhlasan, dipandu oleh doa, dan berlabuh di pelabuhan yang bernama surga.
Langit Totabuan malam itu menatap sunyi, seperti menyimpan rahasia kebahagiaan dua insan yang baru saja menautkan jiwa. Dan semoga, langit yang sama akan terus menaungi mereka, dari hari ini hingga rambut memutih, hingga waktu berhenti. (*)



