Seberkas Cahaya dari Turnamen Bupati Cup untuk Sang Imam

Ketua Panitia Turnamen Bupati Cup bersama sejumlah panitia memberikan bantuan kepada Imam Masjid Al-Ikhlas, Bapak Arhap Asinang./Foto: Istimewa
TIMUR TIMES BOLTIM – Fajar belum sempat menyingsing, ketika langit Kotabunan diselimuti cahaya yang bukan berasal dari mentari, melainkan dari kobaran api yang menelan satu rumah sederhana di tepian desa. Di sanalah, di antara gemeretak kayu yang patah dan desah angin dini hari, rumah milik Ustaz Arhap Asinang, imam Masjid Al-Ikhlas, menjadi saksi bisu akan rapuhnya dunia dan teguhnya takdir.
Pada Rabu, 22 Oktober 2025, kabar duka itu menyebar cepat seperti nyala api yang membakar dinding bambu. Dan di tengah kepedihan itu, datang seberkas cahaya kecil dari hati-hati yang masih hangat oleh empati. Panitia Open Turnamen Bupati Cup Boltim, yang kala itu tengah sibuk mempersiapkan pertandingan, memutuskan berhenti sejenak dari hiruk-pikuk sorak stadion untuk mengulurkan tangan.
Keesokan paginya, Kamis, 23 Oktober 2025, mereka datang membawa bukan sekadar amplop berisi uang, melainkan sepotong harapan. Uang tunai itu diserahkan langsung kepada sang imam, sebagai bentuk kasih yang sederhana namun tulus. “Bantuan ini mungkin tak banyak,” ucap Ketua Panitia, Hi. Fitiri Panna, dengan suara yang menahan haru, “tetapi kami berharap, beban yang kini dipikul keluarga Ustaz Arhap sedikit berkurang.”
Dana itu berasal dari hasil penjualan tiket turnamen sepak bola, sebuah arena yang biasanya dihiasi tawa dan sorak kemenangan, kini menjadi wadah bagi solidaritas. Fitiri menambahkan, panitia membuka tangan bagi siapa pun, terutama para penonton dan pecinta bola, yang ingin turut menebar kebaikan. “Masjid Al-Ikhlas, tempat beliau mengimami, berdiri tak jauh dari lokasi turnamen. Bagi siapa yang ingin menyisihkan sedikit rezeki, kami siap memfasilitasi,” tuturnya.

Peristiwa itu sendiri terjadi pada dini hari yang tenang sekitar pukul tiga. Sebagian besar warga masih terlelap, hanya suara letupan kecil yang mula-mula membangunkan beberapa orang. Dalam hitungan menit, api sudah menari liar, menyambar atap, menelan dinding, dan akhirnya menjatuhkan seluruh rumah ke dalam pelukan abu. Tak ada korban jiwa, namun seluruh harta benda, kitab, dan pakaian hangus tanpa sisa.
Ustaz Arhap, yang selama ini dikenal lembut dan sabar, berdiri memandangi puing rumahnya dengan mata yang masih menyisakan bara kesedihan. Namun dari bibirnya hanya keluar kalimat lirih. Sebuah kepasrahan yang tak semua manusia mampu ucapkan di tengah kehilangan.
Kini, di antara abu dan sisa bara, ada secercah keyakinan bahwa dari kehancuran akan tumbuh kembali kehidupan. Masyarakat Kotabunan pun bergerak, menunjukkan bahwa api yang membakar rumah tak akan mampu membakar rasa kemanusiaan.

Semoga musibah ini menjadi jalan bagi datangnya rahmat yang lebih luas. Semoga Ustaz Arhap Asinang, imam Masjid Al-Ikhlas sekaligus guru ngaji yang selalu menebar ilmu, digantikan oleh Allah SWT dengan kebaikan yang tak terhingga seperti janji-Nya kepada mereka yang sabar.
Dan semoga, dari abu yang berserak itu, tumbuh kembali rumah bukan sekadar dari bata dan kayu, tapi dari cinta, doa, dan kepedulian sesama. (*)



