Lorong Amu pada Jam Setengah Dua

Rabu, 21 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

Oleh: Matt Rey Kartorejo

RABU, 21 Januari, pukul 13.30 WITA. Langit Kotabunan seperti tungku yang dipanaskan tanpa jeda. Matahari menggantung tinggi, menekan kulit, memeras peluh dari pori-pori yang pasrah. Angin bertiup malas, hanya sesekali menyentuh dedaunan, seolah ikut lelah menghadapi siang. Di dalam rumah yang sederhana itu, aku dan Dio Djubair duduk berdampingan. Dua gelas kopi susu terhidang di meja, aromanya menyatu dengan asap dua bungkus rokok yang terbakar perlahan. Waktu berjalan pelan, sepelan percakapan kami yang mengalir tanpa beban.

Lorong Amu, Desa Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, siang itu terasa lebih lengang dari biasanya. Kendaraan jarang melintas; barangkali semua orang memilih berlindung dari terik yang tak kenal ampun. Di balik suasana tenang itu, kami membicarakan hal-hal yang bagi kami penting tentang hidup, tentang rencana, tentang hari-hari yang sedang dan akan dijalani.

Suasana di Rumah Dio Djubair tepatnya di Lorong Amu Desa Kotabunan./Foto: Istimewa

Percakapan kami terhenti ketika ponsel Dio berdering. Ia menekan tombol hijau, suaranya berubah menjadi nada serius yang singkat. Setelah panggilan itu berakhir, waktu seperti memberi isyarat untuk bergerak. Aku berpamitan, sebab masih ada urusan yang menunggu di Kantor Capil Boltim.

“Yong, tamo ka rumah dulu ne. Nanti kalu ngana mo ka Tutuyan, singgah pa kita,”

 kataku sambil melangkah pergi.

Jarum jam terus berputar. Tepat pukul dua siang, suara motor Dio terdengar di depan rumahku. Ia memarkirkan motornya di teras. Aku telah siap. Tanpa banyak kata, kami berangkat menuju Tutuyan, membelah jalan yang disinari matahari dengan tekad sederhana: menyelesaikan urusan hari ini.

Di Tutuyan, kami singgah sejenak di Morphic Coffee House. Kedai itu seperti oase kecil tempat bercengkerama, bertukar kabar, dan menyambung tawa dengan beberapa kawan jurnalis. Setelah obrolan singkat, kami pamit dan melanjutkan tujuan utama. Di Kantor Capil, Dio mengambil KTP yang telah dicetak. Aku menunggu di depan kantor, memperhatikan lalu-lalang orang dengan pikiran yang ringan.

Tak lama, kami kembali ke jalan pulang. Semua urusan terasa selesai tanpa ganjalan. Ada rasa lega yang tumbuh diam-diam di dada. Dalam perjalanan, tawa kecil sesekali pecah, disusul senyum yang tak dibuat-buat.

Bersama teman jurnalis di Morphic Coffee House Tutuyan./Foto: Momais

Di Desa Tombolikat Selatan, kami berhenti sejenak untuk semangkuk bakso. Kuah hangat dan bakso kenyal seperti hadiah kecil setelah perjalanan panjang. Setelahnya, kami kembali melaju menuju Kotabunan. Di sebuah perempatan, sebuah mobil pikap menjajakan buah-buahan. Duren tersusun rapi, menggoda siapa saja yang lewat.

“Yong, brenti dulu, kita mo bli duriang,” pintaku.

Kami berhenti, aku turun, membeli duren, lalu kembali melanjutkan perjalanan hingga tiba di rumah di Desa Bulawan. Hari itu, semuanya berjalan mulus, seakan semesta bersepakat memberi kelancaran.

Dalam diam, aku bersyukur. Terima kasih, ya Rabb, atas nikmat yang Kau titipkan hari ini.

Cerita ini memang sederhana. Namun bagiku, ia penuh makna. Di bawah terik matahari, di tengah rutinitas yang tampak biasa, kami menjalani hari dengan lancar dan hati yang lapang. Terima kasih, ya Allah, atas kesehatan dan kesempatan. Semoga kebaikan selalu menyertai kita semua. Aamiin. (*)

Berita Terkait

Kebaikan Rahman Salehe, Sederhana Namun Membekas di Hati
Hadirnya Dokter Spesialis Adalah Sebuah Kelegaan. Winta: Terima Kasih PT ASA
Pagi yang Penuh Haru di Sam Ratulangi, Samsudin Dama Titipkan Doa Untuk 15 Jemaah
Pesona Pohon Cinta Marisa, Pantai Sederhana dengan Laut Indah yang Bikin Betah
Di Tanah Dodap Bersatu, Syukur Menjadi Doa dan Kebersamaan Menjadi Berkat
Memikul Keranda, Menguatkan yang Berduka: Potret Kepemimpinan Humanis Kapolres Boltim
Selamat Jalan Amin Musa, Pengabdianmu Akan Selalu Hidup dalam Kenangan
Di Balik Riuh Bandara, Doa dan Persaudaraan Mengantar Langkah ke Tanah Suci
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 19:37 WITA

Kebaikan Rahman Salehe, Sederhana Namun Membekas di Hati

Rabu, 23 September 2026 - 20:04 WITA

Hadirnya Dokter Spesialis Adalah Sebuah Kelegaan. Winta: Terima Kasih PT ASA

Selasa, 22 September 2026 - 19:17 WITA

Pagi yang Penuh Haru di Sam Ratulangi, Samsudin Dama Titipkan Doa Untuk 15 Jemaah

Selasa, 15 September 2026 - 12:47 WITA

Pesona Pohon Cinta Marisa, Pantai Sederhana dengan Laut Indah yang Bikin Betah

Minggu, 13 September 2026 - 23:08 WITA

Di Tanah Dodap Bersatu, Syukur Menjadi Doa dan Kebersamaan Menjadi Berkat

Berita Terbaru